Bersama sepinya sore


Matahari di sore hari tak nampak begitu jelas, terhalangi oleh gumpalan hitam yang mulai memutih lagi setelah puas menyirami bumi dengan dengan air beningnya.

Atap gubuk ku masih mengalunkan nada tak bermelodi, dentingan gerimis sisa sisa hujan masih meneteskannya ke bumi yang penuh kisah ini.

“Subhanalloh” ucapku lirih, yang sedari tadi duduk mengerjakan tugas wajibku di depan komputer tak lumayan bagus yang aku rakit sendiri.

Aku tertegun, mengingat seorang teman, sahabat bahkan saudaraku sendiri yang sedari kecil selalu bersama sama dua hari yang lalu pergi ke luar kota untuk mengadu nasibnya.

“Semoga sukses kawan, mungkin kita memang harus berjauhan agar sama sama bisa meraih apa yang kita inginkan, dan mungkin memang waktunya kau harus mencari jati dirimu dan begitupun aku, sampai bertemu dimasa depan” batinku berucap lirih

Ku letakkan mouse yang sudah membuat tanganku pegal pegal dan berangsur pergi ke ruang televisi untuk membunuh sepi.

Channel demi channel aku susuri, mencari yang menarik tapi gagal, semua terlihat hambar.

Kumatikan, lalu aku pergi ke dapur untuk membuat kopi lalu duduk bersama kopi ditemani buku dan tinta yang mulai mau habis.

Hannan – 26 september 2016