Pagi yang sepi

Masih ingat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.

Asing, ia asing rasanya. 

Kuputuskan untuk menetap beberapa hari dengan menimba ilmu di dalah satu tempat les private yang ada disini. 

Masih ingat pertama kali masuk ke kosan ini, sudah rame oleh kalian.

Masih ingat pertama kali ku kenal dengan kalian, setelah sholat maghrib kalian ada di depan kos spt biasanya, aku yang tak ingin hidup sendirian berdua hanya dengan sepupu se kampung halaman yang lebih dulu ada disini, aku beranikan diri menyapa dan mengajak kenalan. 

“ini mbak siapa? ” sambil kujulurkan tangan

“maya” katanya

“hannan” sahutku memberi tau

“ini mbak siapa? ” tanyaku lagi ke temannya

“inez, inez lho ya mas bukan inis ” sambutnya memperjelas

Ku kenal kalian, kita banyak menghabiskan waktu bersama meski kadang2 harus sibuk dengan kewajiban masing2

Mas seger dan mbak harti sepasang suami istri kamar kos sebelah yang berperan sebagai pengganti orang tua bagiku dan sepupu ku, mungkin juga bagi anak2 yang lain.  

Mereka baik, baik banget. 

Hari berlalu, banyak yg kita lewati bersama.

Ke puncak gunung sunan pangkat telah kita taklukkan.

Belum puas disana, kita pindah menaklukkan gunung pundak yang tingginya 1582mdpl itu. 

Semua kita lalui bersama. 

1 bulan lebih beberapa hari aku disini, aku menemukan keluarga baru. 

Pagi ini 13 mei 2017 aku duduk di bangku buatan mas seger di depan kosan.

Ku pandangi kamar paling selatan, sepi, hanya gorden jendela terbuka sedikit, yang aku harap ada kalian di dalam mengintip aku yang sedang rindu masa2 rame di kos ini. 

 iya, itu kamar kos inez, maya dan paijem. 

Kalian pulang kemarin.

Aku pulang hari ini, aku pamit.

Sudah waktunya kita pisah, mengejar mimpi masing2.

Sampai bertemu di lain waktu ya, semoga kalian semua tidak melupakan waktu yang kita lalui bersama. 

Dan semoga lain waktu bisa berkumpul lagi. 

Terima kasih

Mas seger, mbak harti, inez, maya, gopur dan paijem aka ivani. 

Abd Hannan

Mojokerto, 13 mei 2017

Advertisements

Pagi yang semakin terasa membetahkan

Tusukan dingin ini,  tak seperih tusukan hati yang akan menjauh dari kamu yang telah membuatku betah dan bertahan. 

Tak apa, sudah seharusnya seperti ini. 

Bahagia bukan melulu disaat segumpal rasa yang ada dibalas gumpalan lainnya. 

Dengan kamu tau apa yang ada di gumpalan itu, itu sudah cukup, meskipun tidak lebih dari cukup. 

Abd Hannan

Pontianak – 10 february 2017