Beri aku alasan untuk melupakanmu

6911520468_88fe88431d_b

Aku susuri jalan yang gelap,
kau datang dengan cahaya

aku berjalan di kabut yang dingin
kau hadir dengan hangat yang menghangatkan

aku berdiri di tengah gurun panas
kau redupkan panas itu

aku terombang ambing di tengah badai lautan
kau melempariku sepotong bambu

Dan, apa alasanku untuk melupakanmu ?

Aku berharap, kau datang menyambut tangan yang tak pernah bergeming ini dari tempat sejak pertama aku mengenalmu.

Dear, Hum…..

Hannan

ditulis di sore hari yang mulai tak memiliki matahari

Biar aku genggam


Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. 

Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.
Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.
Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya sudah memiliki pasangan. 

Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana dua orang saling cinta, tapi berbeda Tuhan –yang katanya satu–. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. 

Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan.
Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan saja cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.
Begitu pula dengan keputusanku memendam perasaan. 

Ini semua, sedikit banyak karena keadaan. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku pendam sendiri.

Selagi menunggu keadaan –yang mungkin tak akan datang–, aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang.

 Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan.
“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” Ah, akhirnya aku mengatakan itu.

Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan seorang pujaan.
Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. 

Kamu boleh caci aku karena mengungkapkan rasa pun tak berani. Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi.
Dan biarkan pesan dalam botol ini, tetap menjadi rahasia hati.

Sampai nanti kamu datang lagi kesini 

Untuk H, aku mencintaimu

Hannan / 23 july 2016