Aku ingin lelah


Kaki yang berjalan di atas pasir panas, di bawah terik matahari tanpa sejepit alas kaki, tanpa menjinjing payung pelindung diri yang mulai koyak ini. 

Menuju hatimu, kenapa selalu serumit itu ?

Aku yang hanya membawa jaket kulit hitam yang sesekali kujadikan payung, hanya agar aku tak jatuh ditengah perjalanan gurun yang ganas ini. 

Didepan, selalu kulihat teduh, kupercepat langkah agar cepat pula kulepas penat dan dahaga. Semakin kupercepat, semakin teduh itu menjauh, lebih cepat dari langkah ku yang sudah mencapai batas kecepatan.

Di perjalanan yang melelahkan ini, sesekali aku bertemu dengan mereka yang juga berjuang dan yang diperjuangkan.

Bertemu dengan mereka yang sudah merdeka bahkan tanpa perjuangan membuat aku berpikir “kenapa aku tidak seperti mereka, apa yang berbeda “.

Dan pada akhirnya, aku mencapai batas lelah, tidak ada lagi tenaga untuk memperjuangkan kamu yang tak ingin kuperjuangkan.

Sudah habis rasa ini di tengah perjalanan, di gerogoti rasa penasaran,  menebak nebak rasamu. 

Sudah habis, tak tersisa. 

Jika nanti engkau tau bahwa aku pernah sedemikian gigih nya memperjuangkanmu. 

Mungkin perjalanan itu sudah kulupakan. 

Dan tujuan perjalanan itu sudah tidak akan ada lagi bekas. 

I get tired

Abd Hannan

29-juni-2017

Advertisements

Pagi yang sepi

Masih ingat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.

Asing, ia asing rasanya. 

Kuputuskan untuk menetap beberapa hari dengan menimba ilmu di dalah satu tempat les private yang ada disini. 

Masih ingat pertama kali masuk ke kosan ini, sudah rame oleh kalian.

Masih ingat pertama kali ku kenal dengan kalian, setelah sholat maghrib kalian ada di depan kos spt biasanya, aku yang tak ingin hidup sendirian berdua hanya dengan sepupu se kampung halaman yang lebih dulu ada disini, aku beranikan diri menyapa dan mengajak kenalan. 

“ini mbak siapa? ” sambil kujulurkan tangan

“maya” katanya

“hannan” sahutku memberi tau

“ini mbak siapa? ” tanyaku lagi ke temannya

“inez, inez lho ya mas bukan inis ” sambutnya memperjelas

Ku kenal kalian, kita banyak menghabiskan waktu bersama meski kadang2 harus sibuk dengan kewajiban masing2

Mas seger dan mbak harti sepasang suami istri kamar kos sebelah yang berperan sebagai pengganti orang tua bagiku dan sepupu ku, mungkin juga bagi anak2 yang lain.  

Mereka baik, baik banget. 

Hari berlalu, banyak yg kita lewati bersama.

Ke puncak gunung sunan pangkat telah kita taklukkan.

Belum puas disana, kita pindah menaklukkan gunung pundak yang tingginya 1582mdpl itu. 

Semua kita lalui bersama. 

1 bulan lebih beberapa hari aku disini, aku menemukan keluarga baru. 

Pagi ini 13 mei 2017 aku duduk di bangku buatan mas seger di depan kosan.

Ku pandangi kamar paling selatan, sepi, hanya gorden jendela terbuka sedikit, yang aku harap ada kalian di dalam mengintip aku yang sedang rindu masa2 rame di kos ini. 

 iya, itu kamar kos inez, maya dan paijem. 

Kalian pulang kemarin.

Aku pulang hari ini, aku pamit.

Sudah waktunya kita pisah, mengejar mimpi masing2.

Sampai bertemu di lain waktu ya, semoga kalian semua tidak melupakan waktu yang kita lalui bersama. 

Dan semoga lain waktu bisa berkumpul lagi. 

Terima kasih

Mas seger, mbak harti, inez, maya, gopur dan paijem aka ivani. 

Abd Hannan

Mojokerto, 13 mei 2017

Pagi yang semakin terasa membetahkan

Tusukan dingin ini,  tak seperih tusukan hati yang akan menjauh dari kamu yang telah membuatku betah dan bertahan. 

Tak apa, sudah seharusnya seperti ini. 

Bahagia bukan melulu disaat segumpal rasa yang ada dibalas gumpalan lainnya. 

Dengan kamu tau apa yang ada di gumpalan itu, itu sudah cukup, meskipun tidak lebih dari cukup. 

Abd Hannan

Pontianak – 10 february 2017