I want you

Jika tuhan memang tak mempersatukan kita di pelaminan. 

Aku bisa berusaha menghapus rasa ingin ini. Dan berusaha menunggu yang seperti kamu. 

Tengah malam – 19 maret 2017

Advertisements

Sebutkan namanya

large

Hatiku mencelos saat aku mendengar namamu disebut.

seperti ada rindu hangat yang sudah mulai men-dingin karna rindu itu tak kunjung menemukan wadah yang kuharap wadah darimu, meskipun kecil.

tapi, aku berusaha cukup tau diri.

bahwa aku tak ingin mengharap yang berlebih dari seorang kamu yang dengan sadar tak mau menyadariku.

biarlah semua ini berjalan, berjalan mengikuti jalan yang tak tau jalannya seperti apa.

biarlah rindu ini kunikmati, sendiri.

sebutlah namanya, agar rindu ini selalu hangat untuknya.

karna aku, tak ingin rindu ini hilang, meski juga tak tersampaikan apalagi terbalas.

 

H 2 H

Hannan

ditulis dipagi dingin, 30 agustus 2016

Beri aku alasan untuk melupakanmu

6911520468_88fe88431d_b

Aku susuri jalan yang gelap,
kau datang dengan cahaya

aku berjalan di kabut yang dingin
kau hadir dengan hangat yang menghangatkan

aku berdiri di tengah gurun panas
kau redupkan panas itu

aku terombang ambing di tengah badai lautan
kau melempariku sepotong bambu

Dan, apa alasanku untuk melupakanmu ?

Aku berharap, kau datang menyambut tangan yang tak pernah bergeming ini dari tempat sejak pertama aku mengenalmu.

Dear, Hum…..

Hannan

ditulis di sore hari yang mulai tak memiliki matahari

Aku berharap

believe-hope-love-yourself-favim-com-176611

Cukup melihat binar matamu itu, harapanku memuncak lagi.

Aku berharap,

Senyum manis nan legit itu utuh dan halal menjadi milik ku.

Suatu harapan yang selalu aku untaikan dalam doa selepas sholat sholatku, doa yang aku yakini terdengar dan tersampaikan kepada tuhan yang maha agung.

doa yang aku imani akan dikabulkan olehnya, dalam waktu yang sangat tepat.

tak pernah aku merasa lelah, putus asa dan ragu untuk selalu mengulangi doa doa itu, aku yakin, doa yang selalu kupanjatkan dengan tulus dan ikhlas, akan cepat terkabulkan.

doaku satu,

“jadikanlah aku dan kamu halal untuk saling ber genggam tangan, secepatnya”

dan, aku tak tau mengapa, sering juga berbisik malu dalam doa

jika memang tak secepat yang kuharapkan, dan jika memang aku dan dia belum waktunya mendapat restu, biarkanlah aku menjaganya sedari sekarang, walaupun dengan hanya ikatan kata.

janjiku, aku takkan pernah mendzolimi hati ataupun tubuhnya sampai dia benar benar menjadi satu satunya yang halal buatku”

Amin. .

Teruntuk, H…….

Hannan, ditulis dipagi mendung yang mulai tersinari matahari kuning yang hangat

Biar aku genggam


Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. 

Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.
Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.
Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya sudah memiliki pasangan. 

Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana dua orang saling cinta, tapi berbeda Tuhan –yang katanya satu–. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. 

Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan.
Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan saja cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.
Begitu pula dengan keputusanku memendam perasaan. 

Ini semua, sedikit banyak karena keadaan. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku pendam sendiri.

Selagi menunggu keadaan –yang mungkin tak akan datang–, aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang.

 Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan.
“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” Ah, akhirnya aku mengatakan itu.

Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan seorang pujaan.
Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. 

Kamu boleh caci aku karena mengungkapkan rasa pun tak berani. Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi.
Dan biarkan pesan dalam botol ini, tetap menjadi rahasia hati.

Sampai nanti kamu datang lagi kesini 

Untuk H, aku mencintaimu

Hannan / 23 july 2016

Kamu, dimana ?

Jika aku bisa, aku ingin melihat mata itu, walau hanya dari lubang terkecil yang ada.
Terperanjat di waktu hari masih belum menampakkan mataharinya dari lelapnya tidur, masih gelap dan masih dingin

Berharap sosok yang aku lihat waktu itu ada lagi disana

Dengan dada yang sesak, badan yang menggigil dan mata yang memilik penerangan tak sempurna, kucoba mencari, kucoba datangi tempat yang pernah kamu duduki

Tak berhasil kutemukan, kucoba ketempat yang lainnya

Tapi tetap tak ada pertanda kalau kamu ada disana,

Sampai akhirnya sesuatu menamparku dari belakang, menyadarkan bahwa pagi itu sudah lewat

Aku salah yang mengira waktu tak berjalan, yang berharap waktu terulang lagi

Kucoba datangi tempat pertama kali aku manyapamu

Aku ingin menyapamu lagi di pagi ini, dengan sapaan yang lebih menghangatkan, tapi kamu hilang 

Ku seka mataku hanya untuk memastikan kalau ini mimpi

Aku ingin ini mimpi, ini pasti mimpi

Semakin aku memaksa, semakin aku disadarkan bahwa itu nyata

Tidak, aku masih ingin mengatakan satu hal

Kembalikan aku ke dua hari yang lalu