Bersama sepinya sore


Matahari di sore hari tak nampak begitu jelas, terhalangi oleh gumpalan hitam yang mulai memutih lagi setelah puas menyirami bumi dengan dengan air beningnya.

Atap gubuk ku masih mengalunkan nada tak bermelodi, dentingan gerimis sisa sisa hujan masih meneteskannya ke bumi yang penuh kisah ini.

“Subhanalloh” ucapku lirih, yang sedari tadi duduk mengerjakan tugas wajibku di depan komputer tak lumayan bagus yang aku rakit sendiri.

Aku tertegun, mengingat seorang teman, sahabat bahkan saudaraku sendiri yang sedari kecil selalu bersama sama dua hari yang lalu pergi ke luar kota untuk mengadu nasibnya.

“Semoga sukses kawan, mungkin kita memang harus berjauhan agar sama sama bisa meraih apa yang kita inginkan, dan mungkin memang waktunya kau harus mencari jati dirimu dan begitupun aku, sampai bertemu dimasa depan” batinku berucap lirih

Ku letakkan mouse yang sudah membuat tanganku pegal pegal dan berangsur pergi ke ruang televisi untuk membunuh sepi.

Channel demi channel aku susuri, mencari yang menarik tapi gagal, semua terlihat hambar.

Kumatikan, lalu aku pergi ke dapur untuk membuat kopi lalu duduk bersama kopi ditemani buku dan tinta yang mulai mau habis.

Hannan – 26 september 2016

Biar aku genggam


Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. 

Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.
Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.
Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya sudah memiliki pasangan. 

Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana dua orang saling cinta, tapi berbeda Tuhan –yang katanya satu–. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. 

Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan.
Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan saja cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.
Begitu pula dengan keputusanku memendam perasaan. 

Ini semua, sedikit banyak karena keadaan. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku pendam sendiri.

Selagi menunggu keadaan –yang mungkin tak akan datang–, aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang.

 Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan.
“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” Ah, akhirnya aku mengatakan itu.

Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan seorang pujaan.
Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. 

Kamu boleh caci aku karena mengungkapkan rasa pun tak berani. Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi.
Dan biarkan pesan dalam botol ini, tetap menjadi rahasia hati.

Sampai nanti kamu datang lagi kesini 

Untuk H, aku mencintaimu

Hannan / 23 july 2016