Digital nomad batu malang #Day1

Sudah lumayan lama juga aku agendakan ini, yaa, menjadi nomaden, meskipun belum bisa totalitas, at least sudah mencoba.

Dan kota pertama yg aku sambangi adalah batu malang, kota yg di beri slogan kota wisata ini aku pilih bukan tanpa alasan, tapi tak perlu juga alasannya kujelaskan secara rinci disini, tapi sebagai pertimbangan temen temen, ini beberapa poin kenapa aku pilih kota batu malang.

  • Dekat dengan kota asalku
  • Terkenal nyaman, sejuk, pemandangan bagus, dan yes banyak wisata.

Disana ga tercantum murah sama sekali, karna mmg ga murah haha, namanya juga kota wisata ya, yg harusnya harga mormal 10k dijual 20k.

Aku sewa homestay selama 2 minggu, awalnya mau sebulan, cuman qo, kayaknya kelamaan, mepet sama bulan puasa juga, we know lah, menjelang puasa itu ada dirumah ibarat kado terindah dari tuhan.

Home stay udah tak booking jauh2 hari, dan pas aku diperjalanan menuju batu malang, kamarnya sudah di pesen orang, what the hell ingin aku berkata kasar tapi takut dosa.

Akhirnya tak bilang ke mbak home stay nya ” gimana dong mbak ? -_-” yup lengkap dengan emot memelas nya.

Akhirnya di cariin opsi yang lain dan syukurlah, alhamdulillah ada.

Aku berangkat pagi tepat di hari minggu tanggal 15 april 2018.

Karna sepupu yg sekolah di madiun pulang seminggu sebelumnya dan kembali tepat di hari minggu yg sama dengan hari aku mau berangkat, jadi tak ajak bareng sampe gubeng.

Udah booking tiket KA dari gubeng sby ke madiundan yahh dia malah gapunya identitas apapun.

Akhirnya karna pihak KA kasihan mungkin jadi ya di bolehin aja.

Aku berangkat jam 9 pagi, nyampek surabaya jam 11 dan jadwal KA sepupu aku ini jam 13:30.

Jadi sambil nunggu, kita ngopi di kedai kopi depan gubeng lama.

Kedai kopi depan gubeng lama

Karna cuman ini opsi cafe yg ada, dan ga ngopi aja dong, kita makan juga.

Setelah jam 13:20 aku anterin sepupu ke tempat masuk KA, setelah dia naik ke kereta, aku pun berangkat.

Btw, aku pake motor, dan dari surabaya ke malang, aku bawa helm 2 yang sebenernya ga kepake banget.

Perjalanan surabaya-batu malang menggunakan motor kurang lebih membutuhkan waktu 4 jam an.

Aku naympe jam 17 sekian menit, nunggu bentar depan home stay karna ga ketemu orang, akhirnya sms mbaknya dan keluar ibunya.

Gila emg, yg tak sms mbak nya yg keluar ibunya.

Akhirnya di tunjukin kamarnya, dan yahh bagus lah.

Tak liat qo, ga ada tv nya, padahal katnya ada, dan ternyata dikira gasuka tv, jadi langsung ditaruh lagi tv nya.

Lumayan lah enak rumahnya, aku dapet kamar yg lengkap dengan lemari gede, kaca gede dan kasur empuk banget.

Plus dapet tempat santai nyambi nonton tv, lengkap dengan tempat duduk nya, dapet dapur, kamar mandi dan tempat makan.

Ibarat rumah sendirilah.

Itu hari pertama, hari selanjutnya masih otw.

Fyi: aku tinggal di homestay alamat oro oro ombo, batu, batu malang

Abd Hannan

Advertisements

Beruntungnya aku

latest_very_sad_moment_lonely_images_1319501218

Beruntungnya aku pernah bertemu kamu, mencintaimu lalu membencimu setelah kesekian kalinya aku tau kau tak pernah inginkan aku.

01 – february- 2018

Hannan

Begitu singkat

 

 

sunset-grass-1

22 tahun berlalu penuh dengan kenangan, perjalanan yang tak ingin kusebut singkat yang telah mengajarkan aku banyak hal.

Perjalanan mendewasakan dan menyadarkan bahwa hidup tidak lah hanya sebatas diri kita.

Hidup tidak sebatas apa yang kita mau, yang kita inginkan dan yang apa kita tuju.

Tersadar bahwa hidup adalah interaksi, berhubungan, saling membantu, membagi tangan dengan satu dan yang lainnya.

Aku merasa hidup ini begitu singkat, tidak sebanding dengan luas dan indah nya dunia beserta orang orang nya.

Paradigma kehidupan kita selalu begitu, kanak kanak, remaja, dewasa dan tua.

Sering aku berpikir, tidak bisa aku hidup hanya begini, aku harus menikmati semua yang ada sebelum akhirnya aku berkeluarga hidup dengan berbagai keterbatasan sosialisasi.

Aku harus bermanfaat, aku harus memberikan kenangan yang kekal bagi sesama dan aku harus menikmati hidup dan kehidupan ini.

Arsip akhir pekan

archive-bg
Credit: Flok wales

Minggu yang lega!

minggu2 ini adalah hari hari yang lega, lega karna tak terlalu banyak kesibukan, lega karna tak terlalu banyak hutang.

meski ada hal yang tak kusukai dengan kelegaan ini, karna memang aku tak begitu suka berdiam diri, tanpa aktifitas, tanpa kerjaan, rasanya, hampa!

tapi selalu ada saja yang harus di syukuri, hakikat kebahagiaan memang demikian.

Syukuri apa yang engkau miliki, dan nikmatilah apa yang kau miliki

Bukan berarti dengan kutipan diatas lantas kita menjadi manusia yang penerima apa adanya tanpa doa dan usaha.

doa dan usaha tetap harus dilakukan sekuat dan semampu kita, karna kita hanyalah manusia yang tak dapat mengubah apapun tanpa usaha dan tak dapat menjangkau yang mustahil tanpa doa.

apa perlu ku tendang pantat mu agar kau berlari ? ūüôā

Teruslah jika tak mau hilang

5836959730_4e4c223f9d_b

Teruslah, terus saja menggali jika teriakan ku tak lagi terdengar.

Lelah tidak lagi menjadi alasan untukmu berhenti, istirahat pun kautak mau.

kau hanya memperlambat jalanmu, lalu cepat lagi kau ayunkan kakimu, yang semua orang pun tau kalau kau lelah, tapi kamu tuli.

Terus saja, tak usah menoleh jika memang tak mau berhenti.

mungkin saja dengan kesabaran itu kau menemukan apa yang kau cari,

jika kau jatuh dalam perjalananmu, bangkit saja, sampai kau kebal dengan malu.

Teruslah, hati

Hannan,

 

Untuk kamu yang jauh

tumblr_nali5tdoat1rxwlxqo1_500

Lagu ini bisa menggambarkan perasaan malam ini.

 

Ini malam ke tiga bulan sejak terakhir kita bertemu. Namun terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.

Januari boleh berlalu. Namun sebelum januari yang baru datang, aku tetap merasa seperti baru jatuh cinta. Jika ada ceruk cawan terbesar dari langit, maka akan retak untuk menampung rindu yang beringas ini. Jika ada awan yang pantas menurunkan hujan paling romantis, maka dia akan gigit jari mendengar setiap doa lirih yang di dalamnya terselip namamu.

Satu hal paling aku benci dari pertemuan kita adalah debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Satu hal paling berat ketika bertemu kamu adalah pada saat perjalananku pulang kembali ke bumi. Bumiku yang tanpa kamu.

Dari dalam sini terlihat hujan deras. Jika orang-orang bersuyukur tetap di bawah atap, sedang kepalku harus bergemeretak karena diri ini tak dapat menjangkaumu dalam dekap.

Jarak.

Jarak ada untuk ditempuh. Bukan untuk dikeluh karena jauh.

Aku selalu percaya semua yang indah tak pernah bisa didapat dengan mudah. Semua yang berarti, menuntut untuk korbankan diri. Kita, pergi ke arah yang berlawanan, bukan untuk menjunjung sebuah perpisahan. Kita hanya sedang memantaskan. Kita harus mencoba mengarungi belantara sendiri. Menghadapi masalah yang rumit dengan kemampuan diri.

Bersamamu, segalanya terasa lebih mudah. Pasti.

Namun aku selalu ingat apa yang hidup ajarkan, yang selalu ayah katakan,

“Kita tak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau di waktu yang kita inginkan. Tuhan lebih tahu. Doamu bukan¬†tidak dikabulkan, hanya saja digantikan dengan yang lebih indah, atau disimpan sampai waktu yang lebih indah”

Aku selalu percaya waktu itu akan datang. Waktu di mana kita menghadapi kerasnya dunia bersama. Waktu di mana kita bisa menari di bawah hujan bukannya menunggu badai reda. Waktu di mana aku merasa baik-baik saja ketika genggam tanganmu ada.

Layaknya sebuah mutiara, aku harus menyelam lebih dalam untuk mendapatkan keindahannya. Maka aku mengerti. Selagi aku terus ditempa dunia, aku tetap harus menghadap ayahmu, mengajaknya bicara, mendekatinya. Karena apa? Aku harus sehebat, setenang, dan semengerti beliau dalam menghadapimu.

Karena jika aku tak sesayang ayahmu, aku tak layak untuk duduk berdua denganmu mengenakan tudung putih bersandingan, menjabat tangan beliau, mengucap nama kamu, mengambil alih tanggung jawabnya untuk membahagiakanmu.

Percayalah, aku sanggup.

Kita hanya perlu bersabar.

Ketahuilah satu hal. Jarak dan waktu antara kita besarnya tidak pernah melebihi rasa sayang yang ada.

Bersama sepinya sore


Matahari di sore hari tak nampak begitu jelas, terhalangi oleh gumpalan hitam yang mulai memutih lagi setelah puas menyirami bumi dengan dengan air beningnya.

Atap gubuk ku masih mengalunkan nada tak bermelodi, dentingan gerimis sisa sisa hujan masih meneteskannya ke bumi yang penuh kisah ini.

“Subhanalloh” ucapku lirih, yang sedari tadi duduk mengerjakan tugas wajibku di depan komputer tak lumayan bagus yang aku rakit sendiri.

Aku tertegun, mengingat seorang teman, sahabat bahkan saudaraku sendiri yang sedari kecil selalu bersama sama dua hari yang lalu pergi ke luar kota untuk mengadu nasibnya.

“Semoga sukses kawan, mungkin kita memang harus berjauhan agar sama sama bisa meraih apa yang kita inginkan, dan mungkin memang waktunya kau harus mencari jati dirimu dan begitupun aku, sampai bertemu dimasa depan” batinku berucap lirih

Ku letakkan mouse yang sudah membuat tanganku pegal pegal dan berangsur pergi ke ruang televisi untuk membunuh sepi.

Channel demi channel aku susuri, mencari yang menarik tapi gagal, semua terlihat hambar.

Kumatikan, lalu aku pergi ke dapur untuk membuat kopi lalu duduk bersama kopi ditemani buku dan tinta yang mulai mau habis.

Hannan – 26 september 2016