Teruslah jika tak mau hilang

5836959730_4e4c223f9d_b

Teruslah, terus saja menggali jika teriakan ku tak lagi terdengar.

Lelah tidak lagi menjadi alasan untukmu berhenti, istirahat pun kautak mau.

kau hanya memperlambat jalanmu, lalu cepat lagi kau ayunkan kakimu, yang semua orang pun tau kalau kau lelah, tapi kamu tuli.

Terus saja, tak usah menoleh jika memang tak mau berhenti.

mungkin saja dengan kesabaran itu kau menemukan apa yang kau cari,

jika kau jatuh dalam perjalananmu, bangkit saja, sampai kau kebal dengan malu.

Teruslah, hati

Hannan,

 

Untuk kamu yang jauh

tumblr_nali5tdoat1rxwlxqo1_500

Lagu ini bisa menggambarkan perasaan malam ini.

 

Ini malam ke tiga bulan sejak terakhir kita bertemu. Namun terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.

Januari boleh berlalu. Namun sebelum januari yang baru datang, aku tetap merasa seperti baru jatuh cinta. Jika ada ceruk cawan terbesar dari langit, maka akan retak untuk menampung rindu yang beringas ini. Jika ada awan yang pantas menurunkan hujan paling romantis, maka dia akan gigit jari mendengar setiap doa lirih yang di dalamnya terselip namamu.

Satu hal paling aku benci dari pertemuan kita adalah debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Satu hal paling berat ketika bertemu kamu adalah pada saat perjalananku pulang kembali ke bumi. Bumiku yang tanpa kamu.

Dari dalam sini terlihat hujan deras. Jika orang-orang bersuyukur tetap di bawah atap, sedang kepalku harus bergemeretak karena diri ini tak dapat menjangkaumu dalam dekap.

Jarak.

Jarak ada untuk ditempuh. Bukan untuk dikeluh karena jauh.

Aku selalu percaya semua yang indah tak pernah bisa didapat dengan mudah. Semua yang berarti, menuntut untuk korbankan diri. Kita, pergi ke arah yang berlawanan, bukan untuk menjunjung sebuah perpisahan. Kita hanya sedang memantaskan. Kita harus mencoba mengarungi belantara sendiri. Menghadapi masalah yang rumit dengan kemampuan diri.

Bersamamu, segalanya terasa lebih mudah. Pasti.

Namun aku selalu ingat apa yang hidup ajarkan, yang selalu ayah katakan,

“Kita tak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau di waktu yang kita inginkan. Tuhan lebih tahu. Doamu bukan tidak dikabulkan, hanya saja digantikan dengan yang lebih indah, atau disimpan sampai waktu yang lebih indah”

Aku selalu percaya waktu itu akan datang. Waktu di mana kita menghadapi kerasnya dunia bersama. Waktu di mana kita bisa menari di bawah hujan bukannya menunggu badai reda. Waktu di mana aku merasa baik-baik saja ketika genggam tanganmu ada.

Layaknya sebuah mutiara, aku harus menyelam lebih dalam untuk mendapatkan keindahannya. Maka aku mengerti. Selagi aku terus ditempa dunia, aku tetap harus menghadap ayahmu, mengajaknya bicara, mendekatinya. Karena apa? Aku harus sehebat, setenang, dan semengerti beliau dalam menghadapimu.

Karena jika aku tak sesayang ayahmu, aku tak layak untuk duduk berdua denganmu mengenakan tudung putih bersandingan, menjabat tangan beliau, mengucap nama kamu, mengambil alih tanggung jawabnya untuk membahagiakanmu.

Percayalah, aku sanggup.

Kita hanya perlu bersabar.

Ketahuilah satu hal. Jarak dan waktu antara kita besarnya tidak pernah melebihi rasa sayang yang ada.

Bersama sepinya sore


Matahari di sore hari tak nampak begitu jelas, terhalangi oleh gumpalan hitam yang mulai memutih lagi setelah puas menyirami bumi dengan dengan air beningnya.

Atap gubuk ku masih mengalunkan nada tak bermelodi, dentingan gerimis sisa sisa hujan masih meneteskannya ke bumi yang penuh kisah ini.

“Subhanalloh” ucapku lirih, yang sedari tadi duduk mengerjakan tugas wajibku di depan komputer tak lumayan bagus yang aku rakit sendiri.

Aku tertegun, mengingat seorang teman, sahabat bahkan saudaraku sendiri yang sedari kecil selalu bersama sama dua hari yang lalu pergi ke luar kota untuk mengadu nasibnya.

“Semoga sukses kawan, mungkin kita memang harus berjauhan agar sama sama bisa meraih apa yang kita inginkan, dan mungkin memang waktunya kau harus mencari jati dirimu dan begitupun aku, sampai bertemu dimasa depan” batinku berucap lirih

Ku letakkan mouse yang sudah membuat tanganku pegal pegal dan berangsur pergi ke ruang televisi untuk membunuh sepi.

Channel demi channel aku susuri, mencari yang menarik tapi gagal, semua terlihat hambar.

Kumatikan, lalu aku pergi ke dapur untuk membuat kopi lalu duduk bersama kopi ditemani buku dan tinta yang mulai mau habis.

Hannan – 26 september 2016