Biar aku genggam


Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. 

Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.
Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.
Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya sudah memiliki pasangan. 

Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana dua orang saling cinta, tapi berbeda Tuhan –yang katanya satu–. Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. 

Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan.
Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan saja cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.
Begitu pula dengan keputusanku memendam perasaan. 

Ini semua, sedikit banyak karena keadaan. Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku pendam sendiri.

Selagi menunggu keadaan –yang mungkin tak akan datang–, aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang.

 Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan.
“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” Ah, akhirnya aku mengatakan itu.

Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan seorang pujaan.
Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. 

Kamu boleh caci aku karena mengungkapkan rasa pun tak berani. Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi.
Dan biarkan pesan dalam botol ini, tetap menjadi rahasia hati.

Sampai nanti kamu datang lagi kesini 

Untuk H, aku mencintaimu

Hannan / 23 july 2016

Advertisements

Kamu, dimana ?

Jika aku bisa, aku ingin melihat mata itu, walau hanya dari lubang terkecil yang ada.
Terperanjat di waktu hari masih belum menampakkan mataharinya dari lelapnya tidur, masih gelap dan masih dingin

Berharap sosok yang aku lihat waktu itu ada lagi disana

Dengan dada yang sesak, badan yang menggigil dan mata yang memilik penerangan tak sempurna, kucoba mencari, kucoba datangi tempat yang pernah kamu duduki

Tak berhasil kutemukan, kucoba ketempat yang lainnya

Tapi tetap tak ada pertanda kalau kamu ada disana,

Sampai akhirnya sesuatu menamparku dari belakang, menyadarkan bahwa pagi itu sudah lewat

Aku salah yang mengira waktu tak berjalan, yang berharap waktu terulang lagi

Kucoba datangi tempat pertama kali aku manyapamu

Aku ingin menyapamu lagi di pagi ini, dengan sapaan yang lebih menghangatkan, tapi kamu hilang 

Ku seka mataku hanya untuk memastikan kalau ini mimpi

Aku ingin ini mimpi, ini pasti mimpi

Semakin aku memaksa, semakin aku disadarkan bahwa itu nyata

Tidak, aku masih ingin mengatakan satu hal

Kembalikan aku ke dua hari yang lalu

Aku hanya ingin kamu tau

hold_my_hand_by_7_deadly_sins

 

 

aku hanya ingin kamu tau apa yang sedang aku rasakan.

entah harus kepada siapa aku menitipkan perasaan ini agar tersampaikan tanpa di bumbuhi kata buruk atau pun kata pemanis.

yang aku butuh hanya ingin menggenggam tanganmu, memandang mata itu sembari berucap ” aku mencintaimu, sangat mencintaimu”

jika itu terlalu sulit atau terlalu berlebihan, biarku sederhanakan lagi,

ijinkan aku membisikkannya.

masih tak bisa ?

bisakah aku mengirim kan sebuah kertas putih yang tertuliskan perasaanku ?

atau, jika itu masih berlebihan juga

bolehkah aku meminjam teman mu atau siapapun yang dekat denganmu, yang bisa menyampaikan dua kata ini kepadamu .

Aku Mencintaimu lek . . .

hannan / 22 july 2016